Minggu, 01 Januari 2012

Grom : Rudal Utama Hanud TNI AD

Rudal Grom Arhanud TNI AD dalam platform peluncur Poprad
Setelah rudal Rapier dipensiunkan oleh TNI AD, maka kemudian Arhanud (artileri pertahanan udara) TNI AD memilih rudal Grom, yakni rudal jenis SHORAD (short range air defence), alias rudal pertahanan udara jarak pendek/SAM (surface to air missile). Sebagai rudal SAM ringan, Grom pertama kali diproduksi pada tahun 1995, dirancang oleh Military Institute of Armament Technology, dan diprodkusi oleh Mesko, Skarżysko-Kamienna, manufaktur senjata asal Polandia.
Dengan berakhirnya masa tugas Rapier pada Juni 2007, secara bertahap Grom mulai memperkuat arsenal arhanud TNI AD. Unit Arhanud TNI AD pertama yang dilengkapi Grom adalah Detasemen Rudal 003 Kodam Jaya, dan kini detasemen rudal Arhanud lain dilingkungan TNI AD sudah berbekal Grom, yakni Detasemen Rudal 001 Kodam Iskandar Muda yang mengamankan area kilang Arun, Detasemen Rudal 002 Kodam Tanjungpura yang mengamankan obyek vital di Bontang, dan Detasemen Rudal 004 Kodam Bukit Barisan yang mengamankan obyek vital di Dumai.
Kobra Modular air defence system
Paket pengadaan rudal Grom mencakup Kobra modular air defence system dari yang terdiri dari battery command vehicle, sistem peluncur rudal Poprad, 3D multi-beam search radar, dan meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom.
Grom
Rudal Grom berasal dari platform rudal panggul yang bisa dioperasikan secara perorangan. Karena berasal dari Polandia yang merupakan eks sekutu Rusia, basis desain Grom juga diambil dari rudal SAM SA-7 yang sudah lebih dulu kondang. Pertama kali Grom digunakan oleh Angkatan Darat Polandia pada tahun 1995. Dan pada tahun 2007, Polandia menjual beberapa Grom ke beberapa negara, termasuk ke Georgia, negara pecahan Uni Soviet. Georgia membeli 30 peluncur dan lebih dari 100 rudal.
Tampilan rudal Grom, tanpa peluncur
Rudal Grom dalam versi Manpad (panggul)
Pembelian Grom oleh Georgia-lah yang kemudian mengangkat pamor rudal ini, pasalnya Georgia pada tahun 2008 sempat terlibat konflik dengan Rusia dalam perang di wilayah Ossetia Selatan. Dilaporkan selama perang tersebut, 20 helikopter Rusia tertembak oleh Grom. Di medan konflik yang lain, tepatnya pada akhir 2008, pihak Rusia telah menemukan paket rudal Grom yang digunakan oleh pejuang Checknya. Itulah perjalanan tempur rudal Grom yang beberapa kali telah ‘mentas’ di beberapa medan perang di wilayah dingin. Apakah ini yang menjadi dasar pembelian Grom oleh Indonesia?
Secara spesifikasi, Grom mempunyai berat 10,5 Kg, serta berat berikut peluncur mencapai 16,5 Kg. Bobot hulu ledak Grom yakni 1,82 Kg, sedangkan diameter Grom hanya 72 mm dan panjang rudal 1.566 mm. Bagaimana dengan soal jangkauan? Jangkauan tembak Grom horizontal yakni 5.500 meter dan jangkauan tembak vertikal antara 3.000 sampai 4.000 meter, dengan minimal jangakauan tembak 10 meter. Untuk kecepatan, Grom bisa menguber target dengan kecepatan 650 meter per detik. Pihak pabrik menyebutkan, Grom bisa beroperasi pada suhu -35 sampai 50 derajat celcius, jadi secara teori cukup layak digunakan di Indonesia.
Grom berpemandu infrared, sistem penembakan yakni mengusung konsep fire and forget, atau setelah ditembakkan secara otomatis rudal akan mengejar sumber panas sasaran. Secara umum, antara Rapier dan Grom punya kodrat yang sama dalam menguber target, yakni sama-sama mengincar target yang terbang rendah dengan manuver dan kecepatan tinggi.

Peluncur Poprad

Dalam gelar operasinya, Grom milik Arhanud TNI AD dipasang dalam platform peluncur Poprad dan meriam 23-mm/ZUR komposit. Untuk Poprad yang dipakai oleh TNI AD, menggunakan platform jip Defender dari Land Rover. Dalam satu jip tersedia 4 peluncur Grom yang dapat diputar 360 derajat. Dengan adopsi peluncur Grom pada kendaraan berkemampuan off road, diharapkan gelar operasi rudal ini dapat lebih mobile dan fleksibel. Umumnya dalam satu jip peluncur membawa 8 rudal, 4 yang siap tembak, dan sisanya 4 rudal sebagai cadangan.
Peluncur Poprad, dilengkapi beragam sensor canggih
Poprad bisa diadopsi ke berbagai plaform kendaraan tempur
Meski dapat ditembakkan secara terpadu dari Battery Command Vehicle, tapi komponen Poprad dapat beroperasi secara mandiri, dengan dua kru (komandan/operator dan supir), Poprad dapat menguntit target lewat atomatic target tracking (videotracker) dalam kondisi siang dan malam hari. Agar akurat membidik target, Poprad juga dilengkapi teknologi FLIR (forward looking infra red) dan electro optical sensor yang berkemampuan thermal camera plus laser range finder. Untuk menghindari friendly fire, atau salah menembak target, Poprad juga sudah dibekali IFF (identification friend or foe) interrogator.

Meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom
Untuk unsur yang satu ini, keberadaan rudal Grom ditendemkan pada meriam 23-mm/ZUR. Dalam posisi siap tembak, 2 peluncur Grom ditempatkan pada sisi kanan juru tembak, tentu saja proses isi ulang rudal bakal lebih cepat di sistem meriam ini. Secara umum, meriam 23 mm ini memiliki jangkauan tembak maksimum vertikal 2.000 meter, dan jangkauan tembak horizontal 3.000 meter. Meriam ini diawaki oleh 6 awak, 2 bintara dan 4 tamtama. Dengan konsep komposit/hybrid, amumisi meriam dan rudal dapat ditembakkan ke target secara simultan, hingga mencapai daya hancur yang berlipat.



Battery Command Vehicle
Dalam Kobra modular air defence system, terdapat elemen Battery Command Vehicle dan Mobile Multibeam Search Radar, kedua ditempatkan terpisah dalam platform jip Defender Land Rover. Battery Command Vehicle merupakan kendaraan pos pengendali baterai, perangkat ini mampu mengendalikan hingga 6 pucuk meriam secara serentak. Command Vehicle dipandu dengan alat bidik optronik yang memiliki interface dengan rudal/meriam. Kemampuan deteksi Battery Command mencapai 20 Km, dilengkapi dengan laser range finder, TV camera, dan optical direcetor. Sebagai ‘jantung’ sistem pertahanan modular, Battery Command dapat mengusung 3 sumber energi, yakni dari generator, listrik PLN, dan baterai.
Awak pada Battery Command Vehicle

Mobile Multibeam Search Radar (MMSR)
Bila Battery Command Vehicle berperan sebagai elemen pengendali, Multibeam Search Radar berperan sebagai radar penjejak dan pemantau pergerakan target. Perangkat ini mempunyai jangakauan horizontal hingga 40 – 50 Km, sedangkan jangakau vertikal mulai dari 50 meter – 10.000 meter. Mobile Multibeam Search Radar dapat menampilkan obyek 3 dimensi, perangkat ini diawaki oleh 2 orang. Karena menggunakan platform jip Defender, waktu gelar radar ini bisa dilakukan dengan singkat, waktu siap tempur hanya butuh 4 menit.
Mobile Multibeam Search Radar
Uji Coba Grom di Indonesia
Untuk mengetahui seberapa besar kehandalan alutsista yang dimiliki, TNI AD beberapa kali telah menggelar Grom dalam serangkaian uji coba. Boleh saja Grom berjaya di medam tempur Eropa yang bersuhu dingin, tapi apakah jenis rudal ini juga handal saat dioperasikan di wilayah tropis seperti di Indonesia?
Rangkaian kendaraan tempur pengusung rudal Grom
Uji tembak pertama seluruh meriam dilakukan pada 24-25 Oktober 2007 di lapangan tembak Ciampea – Bogor, oleh instruktur dari Polandia. Uji tembak ini disaksikan langsung oleh Direktur Peralatan TNI AD dan hasilnya meriam dapat beroperasi dengan baik, dan tembakan dapat mengenai sasaran seperti yang diharapkan.
Selanjutnya dilakukan uji tembak yang kedua, berlangsung pada 28 Oktober – 3 November 2007 di lapangan uji tembak senjata berat di Bulus Pesanteren, Kebumen – Jawa Tengah. Titik berat pengujian dilakukan pada rudal Grom yang diintegrasikan dengan Battery Command Vehicle dan MMSR. Uji tembak ini disaksikan oleh pucuk pimpina TNI AD, sasaran tembak yang dipakai adalah pesawat model yang dikendalikan dengan remote control. Hasilnya, dari empat kali penembakkan rudal, sasaran tidak dapat dihancurkan.

Mengenai kegagalan Grom, ada tanggapan dari pihak operator. “Menurut perhitungan, akurasi, dan toleransi terhadap sasaran yang sebenarnya (pesawat udara), sesunghunnya sasaran itu dapat dihancurkan sebelum mendekati obyek vital yang dilindungi,” ujar Serka Sutoyo, Bintara Den Arhanud 003 Kodam Jaya, dikutip dari Majalah Defender, edisi September 2008.
Kemudian ada lagi uji coba rudal Grom pada 4 Mei 2010, dikutip dari Tribunenews.com, ujicoba tiga rudal di perairan Sekerat, Bengalon Kabupaten Kutai Timur,lagi-lagi tidak mengenai target.
Sistem senjata tersebut jenis Grom Komposit Meriam 23 MM Zur 23-2KG-1 yang diperagakan oleh 26 pria Polandia. Disaksikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta, pejabat TNI AD, pejabat Kodam VI Tanjungpura, juga Muspida Kutim.

Dandim Kutim Letkol Inf Mukhtar menjelaskan, peragaan beberapa elemen sistem persenjataan itu berfungsi secara integral. Adapun rudal yang meleset sedikit dari target atau sasaran karena pengaruh cuaca panas. Menurutnya, sesaat sebelum misil meluncur, komputer melakukan pengecekan terhadap 3 parameter yaitu sistem elektronik misil, jarak sasaran, dan besar suhu sasaran. Bila salah satu parameter tersebut tidak terpenuhi, maka misil tidak akan meluncur ke sasaran. Dalam uji coba, rudal meledak tanpa mengenai target.
Usai peluncuran, pihak pelaksana uji terima menganalisa bahwa faktor yang mengakibatkan luputnya sasaran adalah cuaca panas. “Karena cuaca di Kutim panas, maka misil yang menggunakan detektor suhu bisa jadi luput dari sasaran. Berbeda saat uji coba di Polandia dan Jawa Tengah yang sukses mengenai target” ujar Letkol Muchtar. KSAD Jenderal TNI George Toisutta mengatakan akan membicarakan kembali rencana pembelian rudal ini di Jakarta. Kemungkinan juga akan ada pengujian ulang di Ambal, Jawa Tengah.
Skema gelar Kobra Defence system, terlihat satu sistem radar dapat memasok informasi ke beberapa peluncur Poprad dan meriam 23 mm
Melihat beberapa kali kegagalan Grom dalam uji coba, pertanyaan lalu muncul, apakah Grom adalah alutsista yang cocok untuk Indonesia? Kalau yang menjadi alasan seputar di hawa yang panas, bagaimana dengan gelar operasi Grom saat digunakan di medan perang sesungguhnya, bukankan sebagian besar wilayah/obyek vital berada di area yang panas menyengat, semisal di daerah kilang minyak. Jangan sampai nantinya target sudah terkunci, jutru rudal malah loyo sebelum ditembakkan. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Rudal Grom
Pabrik : Mesko, Skarżysko-Kamienna – Polandia
Panjang : 1.596 mm
Diameter : 72 mm
Berat rudal : 10,5 Kg
Berat rudal + peluncur : 16,5 Kg
Berat amunisi : 1,82 Kg
Jarak tembak horizontal : 5.500 meter
Jarak tembak vertikal : 4.000 meter
Kecepatan : 650 meter/detik


sumber : indomiliter.wordpress.com

C-705 : Rudal Pamungkas Andalan Kapal Cepat TNI AL

Rudal C-705
Pada hari Senin, 25 April 2011, Armada Kawasan Barat (Armabar) TNI AL mendapat tambahan alutsista baru berupa kapal cepat rudal (KCR) tipe 40. Kapal cepat rudal yang diberi nama KRI Clurit (641), tak lain adalah kapal perang buatan dalam negeri yang pertama kali dibangun di PT. Palindo Marine, Batam. Meski kodratnya berupa kapal patroli berukuran kecil, jangan diragukan, KRI Clurit mempunyai kemampuan yang cukup maju. Dengan panjang kapal ‘hanya’ 43 meter, Clurit dipersenjatai kanon kaliber 30 mm, meriam anjungan 20 mm, dan rudal anti kapal C-705.
Jenis senjata yang terakhir disebut, C-705, yang menjadikan KRI Clurit rada spesial dibanding kapal cepat TNI AL lainnya. Sebagai pengingat, jenis KCR FPB-57 baru dipasangi rudal anti kapal C-802, setelah diluncurkan versi FPB-57 NAV-V. Seperti halnya C-802, rudal C-705 juga dibuat di Cina oleh pabrik China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC). C-705 merupakan keluarga seri rudal C-70X, rudal ini merupakan pengembangan dari rudal C-704.
Rudal C-704
Sosok rudal ini masih terbilang baru, pertama kali dimunculkan ke publik pada ajang Zhuhai Airshow ke-7 tahun 2008. Dibanding generasi sebelumnya, C-705 hadir dengan beberapa peningkatan, seperti pada elemen mesin, hulu ledak, dan sistem pemandu. Hingga kini, sumber informasi tentang spesifikasi teknis pada rudal ini masih terbatas, yang jelas C-705 dirancang sebagai rudal yang menawarkan efisien si dalam operasionalnya. Secara umum bisa dikatakan spesifikasinya berada diatas C-704, tapi masih dibawah C-802.
Tampilan buritan KRI Clurit, tampak 2 unit tabung peluncur C-705
C-705 mempunyai jangkauan tembak antara 75-80 Km tanpa roket booster, sedangkan bila ditambahkan roket booster jangkauan bisa terdongkrak hingga 170 Km. Dilihat dari jangkauannya, C-705 bisa disebut pula sebagai rudal lintas cakrawala (over the horizon). Untuk urusan kecepatan, meski tak diketahui persis informasi kecepatan luncurnya, banyak disebutkan C-705 masuk dalam kategori rudal high sub sonic. Tentang bobot rudal juga tak ada keterangan pasti, tapi bobot hulu ledak rudal ini mencapai 110 Kg HVDT-H high explosive, lebih ringan ketimbang hulu ledak C-802, yang 165 Kg High Explosive.
C-705 dilengkapi beragam sistem pemandu
Dengan jangkauan 75 Km, C-705 masuk dalam kategori rudal jelajah anti kapal
Dengan bobot hulu ledak 110 Kg, C-705 dipersiapkan untuk mengkandaskan kapal perang lawan yang berbobot hingga 1.500 ton.Daya hancur yang dihasilkannya bisa mencapai 95,7%, ideal untuk menenggelamkan kapal. Konfigurasi rudal pun di-setting pas untuk dipasangkan pada platform kapal patroli dengan bobot antara 50 – 500 ton. KRI Clurit sendiri memiliki bobot 250 ton, pada KRI Clurit terlihat hanya membawa 2 unit C-705 dalam sekali berlayar.
Sebagaimana rudal anti kapal modern, C-705 mempunyai kemampuan sea skimming, yakni terbang rendah diatas permukaan laut, untuk C-705 batas terbawah mampu terbang 12,5 meter dari atas permukaan laut. Dengan terbang rendah, menjadikan sosok rudal ini sulit terdeteksi oleh radar. Untuk urusan pemandu, lagi-lagi tak ada informasi yang spesifik, tapi beberapa literatur menyebut C-705 mengkombinasikan sistem pemandu dari radar, infrared, GPS (Global Positioning Systems), GLONASS (Global Navigation Satellite Systes), dan TV.
Menurut pendapat penulis, C-705 sangat pas untuk diterapkan pada beberapa kapal patroli TNI AL yang kini belum dilengkapi rudal anti kapal, seperti pada jajaran FPB-57. Lainnya seperti kapal cepat TNI AL yang baru diterima secara hibah dari Brunei Darussalam, yakni KRI Badau (642) dan KRI Salawaku (643). Kedua kapal cepat tersebut sejatinya masuk kategori KCR, tapi sayang dalam paket hibahnya, tidak disertakan rudal MM-38 Exocet. Dilihat dari jenis dan ukuran, antara KRI Badau dan KRI Clurit tak beda jauh.
Jangkauan C-705 dapat ditingkatkan dengan roket booster
Embrio Rudal Anti Kapal Nasional?
Hingga kini Indonesia belum berhasil menciptakan rudal anti kapal buatan dalam negeri. Hal ini didasarkan atas ajakan Jenderal Guo Boxiong, Wakil Ketua Komisi Militer Tiongkok, dalam kunjungannya ke Jakarta (21/5/2011). Boxiong menawarkan kerjasama pembuatan rudal C-705, mengingat sebelumnya TNI AL sudah menggunakan rudal buatan Cina, C-802.
Ajakan tersebut lalu ditanggapi oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, menteri mengatakan, “kita menawarkan adanya joint production peralatan senjata, salah satunya membuat rudal bersama. Mereka mempunya teknologi yang luar biasa, kita berharap bisa belajar dan berbagi pengalaman.” Apakah niatan tersebut akan terealisasi? Mari kita tunggu perkembangan selanjutnya.

Spesifikasi C-705

Negara pembuat : Cina
Bobot rudal :
Diameter :
Hulu ledak : 110 Kg HVDT-H high explosive
Mesin : motor roket
Propellant : solid fuel
Kecepatan : High sub sonic
Jangakauan : 75 – 80 Km
Pemandu : Radar/TV/Infrared
Platform peluncuran : truck, kapal perang, dan pesawat tempur.


sumber: indomiliter.wordpress.com

Selasa, 08 November 2011

PENELITIAN SEJARAH

A. TAHAPAN PENELITIAN SEJARAH
Pertama yang harus dilakukan adalah menentukan topik penelitian dengan tujuan agar dalam melakukan pencarian sumber-sumber sejarah dapat terarah dan tepat sasaran. Pemilihan topik penelitian dapat didasarakan pada unsur-unsur berikut ini:

1.Bernilai
Peristiwa sejarah yang diungkap tersebut harus bersifat unik, kekal, abadi.
2.Keaslian (Orisinalitas)
Peristiwa sejarah yang diungkap hendaknya berupa upaya pembuktian baru atau ada pandangan baru akibat munculnya teori dan metode baru.
3.Praktis dan Efesien
Peristiwa sejarah yang diungkap terjangkau dalam mencari sumbernya dan mempunyai hubungan yang erat dengan peristiwa itu.
4.Kesatuan
Unsur-unsur yang dijadikan bahan penelitian itu mempunyai satu kesatuan ide.

B. LANGKAH-LANGKAH DALAM PENELITIAN SEJARAH
Setelah menentukan topik penelitian selanjutnya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1.HEURISTIK (Pengumpulan Data)
Heuristik merupakan langkah awal dalam penelitian sejarah untuk berburu dan mengumpulkan berbagi sumber data yang terkait dengan masalah yang sedeang diteliti.misalnya dengan melacak sumber sejarah tersebut dengan meneliti berbagai dokumen, mengunjungi situs sejarah, mewawancarai para saksi sejarah.

2.KRITIK (VERIFIKASI)
Kritik merupakan kemampuan menilai sumber-sumber sejarah yang telah dicari (ditemukan). Kritik sumber sejarah meliputi kritik ekstern dan kritik intern.

a.Kritik Ekstern
kritik ekstern di dalam penelitian ilmu sejarah umumnya menyangkut keaslian atau keautentikan bahan yang digunakan dalam pembuatan sumber sejarah, seperti prasasti, dokumen, dan naskah.Bentuk penelitian yang dapat dilakukan sejarawan, misalnyatentang waktu pembuatan dokumen itu (hari dan tanggal) atau penelitian tentang bahan (materi) pembuatan dokumen itu sndiri.Sejarawan dapat juga melakukan kritik ekstern dengan menyelidiki tinta untuk penulisan dokumen guna menemukan usia dokumen. Sejarawan dapat pula melakukan kritik ekstern dengan mengidentifikasikan tulisan tangan, tanda tangan, materai, atau jenis hurufnya.

b.Kritik Intern
Kritik Intern merupakan penilaian keakuratan atau keautentikan terhadap materi sumber sejarah itu sendiri. Di dalam proses analisis terhadap suatu dokumen, sejarawan harus selalu memikirkan unsur-unsur yang relevan di dalam dokumen itu sendiri secara menyeluruh. Unsur dalam dokumen dianggap relevan apabila unsur tersebut paling dekat dengan apa yang telah terjadi, sejauh dapat diketahui berdasarkan suatu penyelidikan kritis terhadap sumber-sumber terbaik yang ada.

3.INTERPRETASI (penafsiran)
Interfretasi adalah menafsirkan fakata sejarah dan merangkai fakta tersebut hingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Dari berbagi fakta yang ada kemudian perlu disusun agar mempunyai bentuk dan struktur. Fakta yang ada ditafsirkan sehingga ditemukan struktur logisnya berdasarkan fakta yang ada, untuk menghindari suatu penafsiran yang semena-mena akibat pemikiran yang sempit. Bagi sejarawan akademis, interfretasi yang bersifat deskriptif sajabelum cukup. Dalam perkembangan terakhir, sejarawan masih dituntut untuk mencari landasan penafsiran yang digunkan.

4.HISTORIOGRAFY (Penulisan Sejarah)
Historiogray adalah proses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan penafsiran terhadap data-data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu bukan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibavca orang lain. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisan nya. Sejarawan harus menyadari dan berusaha agar orang lain dapat mengerti pokok-pokok pemikiran yang diajukan.

PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PENELITIAN SEJARAH LISAN
Metode sejarah lisan adalah suatu metode pengumpulan data atau bahan guna penulisan sejarah yang dilakukan sejarawan melalui wawancara terhadap para pelaku sejarah yang ingin diteliti. Di Indonesia metode wawancara dalam penulisan sejarah mulai dikembangkan dengan diawali adanya proyek sejarah lisan yang ditangani oleh Badan Arsip Nasional.
Berkembangnya metode wawancara dalam penulisan sejarah di Indonesia dilatarbelakangi oleh sulitnya menemukan jejak masa lampau berupa dokumen yang sezaman serta makin berkembangnya perhatian studi sejarah yangmengarah ke subyek masyarakat berupa orng kecil dalam peristiwa kecil yang biasanya tidak meninggalkan jejak berupa dokumen.
Wawancara adalah kegiatan melakukan tanya jawab dengan narasumber untuk mendapatkan keterangan tertentu. Wawacara merupakan teknik pengumpulan data yang amat penting dalam penelitian survey selain teknik utama berupa Observasi. Oleh karena itu, dalam penelitian survei, teknik wawancara merupakan pembantu utama dari metode Observasi.

Teknik pengumpulan data dengan wawancara terbagi menjadi tiga macam:
1.Poll Type Interview
Wawancara dialkukan dengan cara mengajukan pertanyaan dengan jawabanyang etalah ditentukan, narasumber tinggal memilih jawaban yang ada.

2.Open Type Interview
Wawancara dilakuakn dengan cara pertanyaan ditentukan terlebih dahulu, sedangkan narasumber dapat menjawab bebas.

3.Nonstructured Interview
Wawancara dilakukan dengan cara pertanyaan ataupun jawaban tidak ditentukan sebelumnya.
Teknik wawancara merupakan teknik yang bersifat pelengkap artinya wawancara digunakan untuk melengkapi data atau informasi yang berasal dari sumber dokumen. amun apabila dumber dokumen tidak ada barulah informasi hasil wawancara dapat dianggap sebagai bahan pokok penelitian.

Beberapa persiapan sebelum melakukan wawancara antara lain:
1. seleksi individu untuk diwawancarai
2. pendekatan terhadap orang yang akan diwawancarai
3. mengembangkan suasana lancar dalam wawancara
4. mempersiapkan pokok masalah yang akan dikemukakan (ditanyakan)